Masjid Al-Irsyad, Bandung moslem traveler travel blogger sandi iswahyudi jenggot traveler
Masjid Al-Irsyad, Bandung. Tanpa ada sekat, menikmati alam dan ikan-ikan yang berenang, menyadarkan diri akan tujuan hidup ini (Dok. Pribadi)

Bismillah

Gak semua yang kita rencanakan akan berjalan sesuai rencana. Apalagi yang gak kita rencanakan.

Jika ada rencana yang gak berjalan, jangan sedih! Syukuri dan langsung fokus pada sisi positifnya.

Seorang moslem traveler melihat sesuatu dengan sudut positif, itu pilihan yang semestinya menjadi jalan hidup.

Nikmatnya berprasangka baik pada segala sesuatu yang menjadi ketentuan Allah, adalah diri mendapatkan nikmat dan kedamaian. Sebaliknya, jika diri berprasangka buruk, ketenangan hati tak akan di dapat, dan solusi pun, kemungkinan tak kunjung datang.

Pelajaran ini saya dapatkan ketika saya dan ketiga peserta Rona Nusantara 7 yaitu Bang Indra, Agus, dan Udin, berencana berwisata ke Kawah Putih Ciwidey.

Namun rencana itu kami—saya, Udin, dan Agus—batalkan, melihat waktu tempuh dan kemacetan yang akan terjadi.

Sebab kata Mas Andre—anak Kediri yang sekarang bekerja di Bandung, ibu temannya pernah ke Kawah Putih, berangkat pagi sampai lokasi pukul 12an.

Akhirnya kami pun minta maaf ke Bang Indra, tidak ikut rute yang sudah direncanakan sebelumnya.

Jika misal kami paksakan, mungkin kami akan sampai lokasi siang hari, kemudian balik dan sampai basecamp KRN—tempat kami menginap selama di Bandung—malam.

Padahal Udin—peserta Rona Nusantara 7 dari Riau—ada jadwal kereta pada pukul 24.

Kemudian kami menyepakati dua lokasi yang akan dituju, yaitu Masjid Al-Irsyad dan Masjid Daarut Tauhiid.

Perjalanan ke Masjid Al-Irsyad, Bandung

Setiap kejadian pasti yang terbaik dan memiliki hikmah. Tinggal diri mau atau gak mengambil hal itu.

Alhamdulilah Allah mudahkan. Kami diberi informasi oleh teman Mas Andre, jika ke lokasi bisa menggunakan kereta api lokal dari Kiaracondong-Padalarang, dengan harga terjangkau Rp 5.000,-.

Nanti setelah dari stasiun, tinggal pesan GO Car ke masjid.

Jika sendiri jelas mahal. Tapi jika beramai-ramai, harga lebih terjangkau.

Alhamdulillah…

Petualangan pemuda dari tiga daerah yang berbeda menuju ke masjid yang ikonik, dimulai 😀

Kereta yang akan membawa kami ke Stasiun Padalarang, Bandung (Dok. Pribadi)

***

Sesungguhnya perjalanan ini bagi saya, bukan semata membunuh rasa penasaran dalam diri, melainkan menjadikan diri semakin dahaga dengan rumah Allah.

Kami memilih duduk bersama didekat pintu kereta. Ada yang memainkan HP, mengambil buku, atau menikmati pemandangan yang tersaji dibalik kaca kereta.

Sejatinya, kerinduan akan perjalanan tak akan pernah terpuaskan. Sebab diri bagian dari proses perjalanan.

Diri baru akan terhenti, ketika kedua kaki memasuki pintu mulia yang diidam-idamkan oleh seluruh umat Muslim, yaitu Surga.

Semoga diri ini dan seluruh umat Muslim yang cinta pada Allah dan Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, masuk ke dalam SurgaNya. Aamiin.

Beberapa menit kemudian, kereta pun terhenti di Stasiun Padalarang. Kami turun dan disapa oleh hujan.

Alhamdulillah…

Tak boleh lagi bibir ini mencibir hujan. Karena hujan adalah rahmat dari Allah Yang Maha Tinggi.

Bila bibir ini mencibir, tentulah sama saja, diri yang hina ini menghina Allah Azza wa Jalla. Astagfirullah…

Maka tuntunan dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, adalah berdoa, “Allohumma shoyyiban nafi‘aa (Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat). ” (HR. Al-Bukhari dalam Fathul Baari II/518)

Kami menikmati tiap tetes air dengan formasi yang indah menyapa bumi. Sebagaimana sepasang burung bermesraan memuji asma Allah dengan suara-suaranya yang menenenangkan batin.

Kerinduan langit akan bumi, tersampaikan oleh air. Sebagaimana kami (muslim) tiap hari, rindu akan ketenangan dalam masjid.

Saya pun membuka aplikasi Go Jek, kemudian memilih GO Car dari tempat penjemputan di stasiun untuk diantarkan ke Masjid Al-Irsyad.

Beberapa menit kemudian, telepon berdering.

“Pak di mana?” Kata driver Go Car

“Saya di Stasiun Padalarang pak. Saya harus menunggu di mana?”

“Di sana saja pak.”

“Ok pak, terima kasih,” sambil saya menutup telepon.

Pikir saya, apa boleh ya menjemput penumpang di depan stasiun?

Kalau di tempat saya Malang, ojok online, dilarang menjemput penumpang di depan stasiun. Jika ada yang melanggar, dan ketahuan, tahu deh kelanjutannya.

Ternyata di sini, tidak sama kayak di Malang. Alhamdulillah.

Melepas rindu pada Masjid Al-Irsyad dan Masjid Daarut Tauhid

Mas ini sudah sampai.

“Alhamdulillah, makasih mas,” ucap saya pada sopir sambil melihat bangunan masjid bermodel kubus.

Kami berjalan keluar, sambil memandang masjid yang indah ini. Dikelilingi dengan tetumbuhan: teduh, sejuk, dan damai terasa.

Masjid Al-Irsyad berlokasi di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Ridwan Kamil, Walikota Bandung yang merancang masjid ini. Beliau terinspirasi dari bentuk ka’bah.

Kaki saya melangkah ke kamar mandi, untuk mengambil air wudhu.

Saat saya masuk ke dalam masjidnya, mata saya tertuju pada tempat imam.

Bila pada masjid pada umumnya, tempat imam, ditutup oleh tembok. Lain dengan yang ada di masjid ini.

Masjid Al-Irsyad bandung travel
Masjid Al-Irsyad, Bandung. Penantian kami dikumandangkan iqomah sholat ashar (Dok. Pribadi)

Tempat imam tak ada batas. Imam langsung bisa menikmati pegunungan, dan ikan-ikan yang berenang.

Seolah-olah, diri ini diajak untuk bukan sekadar sholat, melainkan menghadirkan hati dalam tiap gerakannya.

Juga pengingat, bahwa makhluk seluruh alam, tunduk pada perintah Allah Yang Maha Perkasa.

Ada dimensi sunyi antara seorang hamba pada ciptaanNya. Antara hamba pada Sang Pencipta, Allah.

Diri ini sadari, ikan-ikan yang berenang bebas ke sana ke mari, sejatinya sedang berdzikir pada Allah.

Ia yakin, akan adanya Sang Pencipta, yang membuatnya tak melawan apa yang diperintahkan kepadanya.

Bagaimana dengan diriku? Makhluk sempurna yang diberi akal oleh Allah, serta dihisab amalannya selama di dunia.

Saya larut dalam suasana ini. Hening, sejuk, dan indah.

Hening ketika yang dipandang tak lagi tembok, melainkan langsung ciptaanNya.

Sejuk, disebebkan ventilasi udara di masjid ini bagus.

Indah, formasi cahaya dari tempat pengimaman memancar indah, semacam siluet.

Mengingatkan diri, akan hakekat kenapa diri ini hidup.

Ketika mata melihat ke atas langit-langit masjid. Ada lampu-lampu yang bertuliskan nama-nama Allah, sebanyak 99.

Alhamdulillah… diri ini dan mungkin kedua temanku juga, tak henti-hentinya mengucap syukur. Sebab Allah telah izinkan kami ke sini.

Berkat rahmatNya, kami dari berbagai daerah yang sebelumnya tak kenal, menjadi akrab dan saling menolong satu sama lain. Sehingga bisa sampai sini.

Mungkin inilah yang dinamakan dengan ikatan saudara sesama Muslim. Dipanggil dengan dengan sebutan akhi (untuk cowok) dan ukhti (untuk cewek).

Ketika kita memohon pada Allah, kemudian bergerak dengan konsisten. Allah akan pertemukan dengan orang-orang yang sevibrasi. Jika dalam buku Terapi Berpikir Positif, dinamakan dengan hukum tarik menarik.

Di masjid ini, kami larut hingga shalat ashar dikerjakan. Setelah itu kami langsung menuju ke rute selanjutnya yaitu ke Masjid Daarut Tauhiid, Bandung.

Lokasinya berada di belakang Kampus UPI.

Saya tahu masjid ini, dari Mas Niko yang tempat kostnya di kawasan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid. Teman lama, yang beberapa tahun silam, saya menumpang tidur saat ada lomba di Kampus Unpad.

masjid daarut tauhiid bandung
Alhamdulillah, wajah baru Masjid Daarut Tauhiid, Bandung. Dahulu saat ke sini pertama kali tidak seperti ini (Dok. Pribadi)

Alhamdulillah….

Kami di sini, berkesempatan sholat maghrib dan isyak. Di antara keduanya kami mendengarkan ceramah bersama santri putra dan putri DT.

Walau kami saat itu tidak bertemu dengan AaGym, namun semoga dilain kesempatan kami bisa kembali ke sini.

Bukan hanya sebagai pengunjung, tetapi bagian dari mereka yang belajar untuk mencari ilmu agama. Aamiin

Perjalanan yang begitu indah, kaki melangkah tak lagi sendiri. Ada langkah lain yang mengiringi. Diam dalam keheningan, namun doa dalam diam.

Perjalanan ini membuka kesadaran diri, jika yakin, doa, dan bergerak karena Allah, Allah akan tunjukkan jalan.

Malam di Bandung, yang kurindu.

1 KOMENTAR

  1. Indah banget masjidnya, sudah lama ingin kemari untuk menikmati masjid buatan Ridwan Kamil ini, supaya ke depan bisa terpanggil untuk bisa shalat di sini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here