Perahu yang membawa kami mengelilingi Gili Mangrove, Gili Bidara, Gili Kapal, dan Gili Kondo

Bismillah

Kututup mata, dan kumulai mengenangnya kembali. Tentang deburan ombak, ke bersahajaan warga Lombok, kain tenun yang indah dengan ragam corak, dan jalanan yang tak macet.

***

Rindu yang berkarat dalam jiwa, terjawab dengan perjalanan singkat ini. Alhamdulillah.

Hari itu, alhamdulillah Allah izinkan saya untuk menikmati empat gili (pulau kecil) dalam satu hari. Yaitu Gili Mangrove, Gili Bidara, Gili Kapal, dan Gili Kondo.

Saya dan empat orang lainnya, berangkat dari rumah Iko di Lombok Timur pada pagi hari menggunakan mobil.

Bila di kota besar, tentu perjalanan akan bergelut dengan macet, tanpa diminta membuat perasaan dalam diri berubah. Lain jika di Lombok Timur, lalu lintasnya lancar.

Enak dan nyaman. Sambil Rohman mengendarai mobil menuju Gili Lampu, yang berada di Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, saya memandang ke luar cendela menikmati pemandangan.

Rumah-rumah warga, angkot khas Lombok, dan lahan-lahan hijau yang masih luas, menjadi pemandangan selama perjalanan.

Teringat dahulu saat masih kuliah saya berkesempatan ke Mataram untuk mengikuti acara dari mahasiswa Universitas Mataram. Setalah itu kami diajak untuk menikmati Gili Terawangan, sate bulayak, hingga plecing—makanan berbahan dasar kangkung.

Alhamdulillah Senin-Kamis (18-21/12/2017), Allah perjalankan saya kembali.

Sebelum sampai ke Gili Lampu, kami berhenti di salah satu warung, kemudian Iko membeli lima buah nasi bungkus berbentuk kerucut berharga Rp 5.000,-, kerupuk, beserta air minum ukuran besar.

Bekal ini nanti gunakan untuk makan siang di salah satu gili. Karena penjual makanan hanya ada di Gili Kondo dan Gili Lampu saja.

Gili Lampu, tempat pemberangkatan

Beberapa menit kemudian, mobil kami berhenti di parkiran kawasan Gili Lampu yang terdapat beberapa mobil saja. Alhamdulillah tidak ramai pengunjung.

Di tempat ini banyak warga yang tinggal, ada beberapa warung berdiri, musola, tempat mandi umum, dan beberapa kapal berjajar di bibir pantai.

Sebelum ke empat gili, Iko membeli tiket dahulu. Hasil dari lobi, akhirnya kami mendapatkan harga untuk satu kapal selama seharian Rp 400.000,-. Alhamdulillah.

Sambil menunggu operator menyiapkan keperluan perahu. Eka dan Dela—dua adik panti yang mendapatkan hadiah liburan dari Yayasan GSKB—langsung menuju bibir pantai untuk memotret kertas bertuliskan nama-nama yang sudah mereka siapkan sejak lama.

Tak berselang lama, kapal kami sudah siap. Saya, Rohman dan Iko pun berganti pakaian dahulu, dikarenakan di gili akan berenang.

Tak lupa kami juga membawa perbekalan yang ada, baik yang dibeli dijalanan maupun yang dibawa dari rumah.

Perkiraan kapasitas kapal yang kami tumpangi bisa menampung 12-14 penumpang. Sehingga kami yang hanya lima orang saja, kapal terlihat luas.

Bila cuaca bagus, satu kapal bisa menampung 12-14 orang, sedangkan jika cuaca buruk, 7-8 orang saja.

Tentu jika ke sini, dengan membawa lebih banyak orang, satu orang bisa bayar lebih murah lagi, hehe.

Air laut yang menyapa

Percikan air laut yang tertembus perahu, menyapa pakaian hingga mulut kami. Rasa asin pun terasa, hehe. Namanya juga air laut.

Alhamdulillah, kami sudah ganti baju, sehingga siap untuk berbasah-basahan. Pandangan ke depan, ke kiri dan ke kanan, pemandangan indah tersaji. Seulas senyum dari wajah kami tak henti-hentinya menghiasi.

Alhamdulillah… kami diperjalankan oleh Allah untuk melihat ciptaanNya langsung.

Ketika melihat laut dan perahu yang bisa berlayar, teringat salah satu firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 164:

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.”
Segar, asin, menenangkan, dan bersyukur menjadi penghias kami selama perjalanan. Tak lupa kami pun mengabadikan momen ketika di kapal.

Ke Mangrove dan berenang dengan ikan

Melewati Gili Petagan atau Gili Mangrove

Destinasi pertama, kami menuju Gili Petagan atau disebut juga Gili Mangrove. Alhamdulillah kemarin kondisi air laut sedang pasang, sehingga kami bisa melewati gilinya.

Jika surut, kata operatornya mesin perahu akan tersangkut dengan akar-akarnya.

Kanan dan kiri kami berjajar pohon mangrove dengan daun-daunnya yang hijau. Menenangkan jika dipandang.

Saat di sini, saya pikir, kami akan berhenti sejenak, ternyata tidak, kami hanya melewati saja. Setelah itu kapal berlanjut ke Gili Bidara.

***

Di Gili Bidara terdapat lahan yang cukup luas, namun hanya ada beberapa bangunan yang berdiri. Di sini tidak ada penjual makanan.

Saat perahu dilabuhkan. Kami turun. Saya, Iko, dan Rohman langsung bermain-main dengan air yang berwarna biru muda. Saya dan Rohman memakai jaket, sebab kami berdua belum pandai berenang. Sedangkan Eka dan Dela bersantai sejenak.

Jika warna airnya biru gelap, itu berarti lautnya dalam, sedangkan jika warnanya biru muda tidak.

Di pantai ini, kami menemui wisatawan lain dengan jumlah lebih banyak dan mereka membawa alat snorkeling.

Ya, di tempat ini, wisatawan bisa snorkeling.

Saya kemarin pakai kaca mata renang, alhamdulillah bisa melihat ikan-ikan secara langsung.

Tentu jika bisa menyelam, akan bisa melihat pemandangan bawah laut Lombok yang indah.

Eka dan Dela pun juga ikut berenang. Merasakan langsung jernihnya air laut serta ikan-ikan yang berenang bebas. Di tempat ini mereka berdua juga melanjutkan aksinya memotret beberapa kertas yang sudah ada tulisannya dengan pemandangan laut.

Memang, formasi warna biru muda dan biru gelap, memberikan ketakjuban yang luar biasa. Maasyaa Allah, laut salah satu ciptaanNya yang sungguh indah.

Tips di Gili Bidara

Di sini sebaiknya saudara berenang. Misal tidak bisa berenang, saudara masih bisa pakai jaket khusus. Saudara bisa melihat ikan secara langsung dari dekat di tempat ini. Saudara bisa juga sewa kaca mata di Gili Kapal, supaya saat berenang bisa melihat pemandangan bawah laut dengan jelas.

Gili Kapal, seperti pulau hilang

Gili selanjutnya yang memukau adalah Gili Kapal. Saya melihat pesonanya pertama kali saat dikirimi Iko via whatsapp.

A post shared by @adhy_nata on

Indah bukan? Tak ada pepohonan. Dikelilingi dengan air laut yang berwarna biru muda.

***

Gili kapal dari kejauhan tak terlihat. Baru saat sudah dekat, saya melihat beberapa burung camar berdiam diri di tanah yang belum tertutup laut.

Kemarin saat kami ke sana, laut sedang pasang, dan kondisi sedang mau hujan.

Tapi alhamdulillah tidak hujan, bahkan kami melihat fenomena alam yang Masyaa Allah.

Di sisi kanan kami, langit mendung, angin berhembus kencang, awan berubah hitam, sedangkan di sisi lain, awan cerah dan tenang. Masyaa Allah.

Gili Kapal saat sedang pasang, dan cuaca gelap

Saat itu saya takut jika terjadi apa-apa. Misal hujan deras. Tentu jika itu terjadi volume air akan meninggi. Apalagi saya belum pandai berenang lagi ☹.

Pada kondisi ini, diri sadar, bahwa manusia itu sangatlah lemah. Tak ada tempat untuk lari dan berlindung selain perahu yang kami labuhkan dengan besi panjang di pinggir pantai, serta jangkar yang diturunkan.

Terus sekeliling kami, semuanya laut. Bila Allah berkehendak, habislah kami. Iyakan?

Tips di Gili Kapal

Jika saudara ke sini, baiknya bisa membawa drone, agar bisa menangkap pemandangan secara keseluruhan. Jika tak punya tak masalah, saudara masih bisa membawa tongsis, untuk menangkap foto dengan sudut lebih luas.  

Gili kondo, tempat beristirahat yang tenang

Pulau terakhir yang kami kunjungi adalah Gili Kondo. Pulau yang tenang, di sini terdapat warung makan, mushola, dan beberapa bangunan untuk bersantai atau beristirahat sejenak.

Saat kami tiba, ada kapal-kapal yang telah berlabuh. Kami pun mengambil minuman dan makanan yang ada. Menyantapnya sambil menikmati ketenangan pulau ini.

Alhamdulillah, hamparan yang indah. Sajian yang memesona. Pulau ini semacam pendinginan, setelah kami ke tiga pulau dengan medan yang berbeda-beda.

Tempat sholat, adem lihatnya

Di sini saya tak lagi berenang. Tapi lebih memilih merebahkan badan dan tidur. Sedangkan yang lain ada yang berenang, dan makan lagi dengan memesan mi.

Nyam… nikmat, saya melihat Iko dan Rohman makan 😊.

Setelah tubuh kembali fresh. Kami berfoto dahulu dan kembali pulang ke Gili Lampu.

Kontemplasi

Air laut riang, tertawa, tersenyum, dan ramah menyapa kami yang  tak biasa berada di laut.

Sambil perahu meluncur membelah laut. Aku memandang jauh ke depan, tentang keindahan negeri yang aku belum mampu telurusi semua. Belum mampu kuabadikan semua.

Aku tahu dari cerita-cerita sesama pejalan, jika ke kawasan timur negeri ini biayanya tak sedikit.

Mendengar hal ini, kadang, nyali untuk berjalan ke sana hilang. Namun menguat dan selalu menyakinkan diri bahwa yang punya kawasan timur, serta seluruh belahan di bumi ini, adalah Allah Azza wa Jalla.

Dia Maha Kaya, Maha atas segala sesuatu. Pasti kecil bagi Allah untuk memperjalankan saya dari Sabang-Merauke. Jelas itu mudah, tak ada yang sulit.

Maka aku yakin jika Allah izinkan, aku akan berjalan menapakinya. Iya aku yakin itu. Sekarang tinggal, aku merancang, memantaskan diri, dan selalu bertawakal padaNya.

***

Perjalanan ini bukan tentang cara untuk bisa eksis di sosial media. Bukan juga cara untuk memuskan hawa nafsu. Sebab hawa nafsu tak akan pernah puas, sampai tanah kuburan menguburnya.

Melainkan perjalanan ini adalah cara untuk mengenal Dia lebih dekat. Menguatkan diri, bahwa kita manusia lemah dan tak pantas untuk sombong.

Ya… perjalanan selalu mengajarkan tentang kehidupan dan hakekat kenapa kita hidup.

Iyakan?

Nyiur pantai melambai-lambai

Wajah ramah menatap kami

Air laut tak bosan-bosannya berbicara tentang negeri yang indah dan kaya

Wajah, tangan, dan kaki basah. Tubuh pun rela terhempas angin laut.

Kami duduk menikmati sang pengemudi perahu menembus laut.

4 KOMENTAR

  1. Biasanya yg aku baca ttg gili trawangan.. Kali ini baru denger gili kapal, gili kondo, gili bidara… Dan ternyata samaaa bgusnya yaaa.. Honestly aku tuh takut kalo berada di tengah laut gitu.. Ga bisa berenang juga soalnya mas. Itu kenapa aku jrg traveling ke daerah pantai. Ntah kenapa kalo udh di laut, jd ngebayangin gimana kalo sampe tenggelam, kalo ini, kalo itu.. Tp sekalinya melihat foto temen2 yg ke pantai, lgs seneng 😀

    • yap bagus mbak, dan kalau selain weekend, sepi mbak, jadi kayak pulau pribadi gitu haha.. yuk ke pantai aja mbak, minimal mainan pasir ma air di pinggir pantai hehe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here