ojek online sandi iswahyudi travel blogger indonesia
Foto saat saya perjalanan ke Bandara Abdul Rachman Saleh dari kampus UMM

Menikmati Perjalanan dengan Ojek Online dan 4 Pelajaran yang Didapatkan — Cobalah untuk membuka diri dan bertanya tentang diri mereka. Temukan pelajaran kehidupan yang akan membuka mata.

Perjalanan selalu dirindukan, dan tak pernah bosan. Allah memberi kita kenikmatan untuk tidak pernah bosan dengan traveling. Entah apa yang terjadi jika kita bosan untuk berjalan.

Allah memberi kita dua telinga satu mulut. Hikmahnya kita disuruh untuk lebih banyak mendengar daripada bicara. Temukan banyak pelajaran dengan lebih banyak mendengar dari lingkungan sekitar. Apalagi ketika melakukan perjalanan.

Jangan malu untuk bertanya! Jangan malu untuk kenal lebih dekat kehidupan orang! Biasanya dari sini kita akan dapatkan hikmah, bahkan semacam penyadaran yang itu sudah kita tunggu-tunggu sejak lama. Pernah dapatkan pengalaman seperti ini?
Saya beberapa kali pernah merasakan, saat berbincang-bincang dengan orang yang saya baru kenal.

Salah satunya seperti sopir angkutan umum atau tukang ojek. Saya mendapatkan banyak pelajaran tentang kehidupan, kebesaran Allah, dan menikmati pekerjaan.

Sudah beberapa kali saya menggunakan transportasi ojek online, sebut saja GO-JEK untuk menuju ke beberapa tempat di Batu dan Malang.

Penggunaan ojek online ini, bagi saya lebih baik daripada ojek konvensional. Yaitu harga pas di awal dan lebih aman sebab diketahui data tukang ojeknya. Sedangkan jika ojek konvensional, kadang harga bisa seenaknya.

Salah satu contohnya, saat saya baru turun dari pesawat di Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Saya ditawari tukang ojek dari bandara ke Terminal Landungsari, dengan harga Rp 50.000,-. Wouw, pikir saya. Harga yang sangat mahal. Padahal jika pakai GO-JEK cukup bayar Rp 19.000,-. Kalau pakai GO-PAY, malah bayar cuma Rp 14.000,-.

Perbedaan yang sangat mencolok bukan?

Belajar dari tukang ojek online

Saya tidak tahu pastinya, kapan GO-JEK mulai beroperasi di Malang, tapi yang jelas sejak Februari 2017 saat saya mengerjakan skripsi sudah ada.

Saya memesan GO-JEK pertama kali via aplikasi dengan pembayaran tunai. Saat itu ternyata, pengemudinya adalah tetangga rumah. Alhasil saya tidak bayar, alhamdulillah. Kemudian sampai sekarang saya bayar gunakan GO-PAY. Lewat aplikasi ini saya mendapatkan potongan yang lumayan.

Beberapa kali, saat menuju ke satu lokasi, saya tak segan untuk berkenalan dengan tukang ojeknya. Mulai dari kapan bergabung, sebelumnya pekerjaan apa, dan lain-lain.

Kadang pembicaraan juga cukup selesai di sudah berkeluarga/tidak. Jika yang tukang ojeknya seumuran. Biasanya perbicangannya bisa lebih lama.

Ada yang dia jadikan pekerjaan utama, ada juga yang sambilan. Ada yang masih mahasiswa, banyak juga yang sudah berkeluarga. Bahkan ada yang keluar dari hotel dan fokus bekerja di GO-JEK ini.

Diskusi singkat dengan tukang ojek, memberikan saya banyak hikmah. Pertama rasa syukur. Ada begitu banyak kata-kata sederhana, yang terucap. Namun disaat yang tepat, seperti menghujam dalam dada. Itu seperti pesan Allah kepadaku, lewat tukang ojek ini.

Alhamdulillah… ketika melihat dunia, lihatlah yang di bawah, maka rasa syukur akan terus terucap tanpa henti. Namun jika melihat akhirat, lihatlah yang di atas, semangat untuk lebih baik lagi, akan terus menggebu.

Kedua kehidupan sudah dijamin. Allah sudah menjamin kehidupan kita. Allah itu Maha Kaya. Maka sudah semestinya kita tidak perlu khawatir akan segala sesuatu. Tapi kita juga tidak boleh berpangku tangan, mengharap rezeki turun dari langit, misalnya.

Kita tetap harus berusaha dan doa. Keyakinan pada Allah, membuat kita tidak akan pernah berputus asa. Kita akan selalu damai dan nyaman, dalam menjalani kehidupan serta melewati segala rintangan.

Ketiga senyum. Walau mungkin menurut kita, ada saat di mana hidup itu membuat kita harus menangis dan mengutuk sang Maha Kuasa. Maka tahan, dan senyumlah. Kemudian tutup dengan syukur. Kedamaian akan kita dapat.

Seperti tukang ojek, yang tetap tersenyum menjalani hidupnya. Tetap yakin dan istiqomah dalam beribadah kepadaNya.

Hem… damai bukan? Coba pikirkan, siapa yang memberi masalah? Siapa yang memberi rintangan? Siapa juga yang memberi rezeki dan segala kehidupan ini? Allahkan? Oleh karena itu, kenapa di saat kita dapat masalah, tidak ke Allah? Padahal Allah yang tahu akan kita dan segala hal yang ada dikehidupan ini.

Berusahalah tersenyum dan tetaplah tersenyum. Jika tak mampu, paksalah dirimu tersenyum, dengan melihat mereka yang kondisi dunianya di bawahmu.

Keempat menikmati peran. Ini salah satu poin yang saya suka. Kadang, kita iri dengan peran orang yang kita lihat. Misalnya mereka seorang penulis terkenal, artis, travel blogger terkenal, atau videografer. Sedangkan kita, hanya seorang blogger pemula/pekerja biasa. Maka janganlah menyesal! Jangan iri, yang menjadikanmu berbuat buruk pada mereka!

Tapi saudara bisa menjadikan mereka yang telah sukses sebagai energi untuk bergerak dan terus bergerak. Percayalah ketika kita menjalani dengan tulus ikhlas. Allah akan menaikkan derajat kita.

Terpenting, nikmati peranmu sekarang. Syukuri dan jalani tiap prosesnya dengan indah. Niatkan semua kepadaNya. Maka energi besar tanpa batas akan kita dapat.

Hidup ini adalah berlomba menikmati peran. Kita tidak mampu dan kuasa untuk memilihnya. Tapi kita bisa menjalaninya dengan sebaik mungkin.

Walau dari luar terlihat mereka tukang ojek, sopir angkutan umum, atau pekerjaan apa pun yang terlihat sepele. Jangan remehkan! Sebab kita tidak tahu kualitas yang ada dalam dirinya.

Mahal gaknya seseorang itu tidaklah terlihat dari luarnya. Namun terlihat dari seberapa kuat mereka menjalani hidup dan memaknai kehidupan ini.

Wahai kawan, belajarlah pada perjalanan. Selamat menikmati perjalanan.

2 KOMENTAR

  1. Aku juga pengguna setia ojek online sejak muncul di malang tahun 2016 lalu. Seringkali ngobrol dengan driver dan banyak dapet cerita-cerita inspiratif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here