jenggottraveler moslem traveler blog travel sandi iswahyudi
Salah satu sudut di bandara

Saya duduk didekat kaca ruang tunggu nomor tujuh, Bandara Udara Internasional Juanda, Surabaya.

Menanti kedatangan pesawat yang akan membawa diri ke Pulau Lombok, NTB bersama empat teman lainnya: Rohman, Iko, Dela, dan Eka.

Sambil menanti, saya amati mereka yang menunggu panggilan. Kulihat ada yang tidur, ada yang bermain dengan smartphone-nya, ngobrol bersama teman baru, baca buku, dan aktivitas lainnya.

Ada yang posisi sedang duduk santai, duduk biasa, dan berdiri bersama barang-barang bawaan. Ada yang membawa perbekalan banyak, ada juga yang dikit.

Mereka semua serasa terlihat tak sabar untuk segera meninggalkan ruang tunggu. Mungkin bila dinding itu bisa bicara, ia akan bilang, “Iya santai ya, saya juga tak sabar untuk melihat wajah-wajah baru di ruangan ini dengan muka yang menyenangkan.”

Saya sendiri membuat press release untuk kegiatan PMK (Perjalanan Menemukan Karya) #1 yang diselenggarakan oleh Yayasan GSKB.

Menanti pesawat adalah sesuatu yang menyenangkan. Ia akan membawa diri menuju tujuan yang telah dinanti-nanti.

Entah akan bertemu dengan keluarga, mengeksplorasi suatu tempat, bekerja, bertemu teman, atau tujuan lainnya.

Kalau saudara sendiri bagaimana?

Saya sendiri juga menanti pesawat agar lekas masuk pesawat, terbang, sampai tujuan dengan selamat, dan eksplorasi pesona Lombok.

Poinnya adalah menanti dengan membawa bekal. Tak mungkin pergi naik pesawat tak membawa bekal. Apalagi menyusuri kehidupan setelah mati?

Iyakan? Minimal bekal pakaian dan alat komunikasi 😊.

Jika dalam hidup, menanti di bandara adalah seperti kita menanti kematian. Bedanya, kematian itu kita tak tahu, kapan dan di mananya akan memanggil.

Tak bisa direncanakan bahwa pada tanggal dan pukul ini, saya akan berangkat. Sehingga setiap jiwa tak mungkin menyiapkan bekal dengan tiba-tiba.

Bekal itu harus disiapkan jauh-jauh hari, dengan diri yang fokus dan sadar bahwa kapan pun, di mana pun kematian bisa saja menyapa tanpa permisi.

Kemudian apakah diri ini nanti ketika bertemu kematian bahagia atau sedih? Itu juga tak tahu. Maka sejak saat ini, mari siapkan diri dengan sebaik mungkin.

Selalu mendekat dan memohon padaNya, agar berakhir baik (khusnul khotimah).

Itu yang bisa dilakukan. Iyakan?

Sejatinya perjalanan ini, bukan tentang perpindahan fisik semata, melainkan juga menghadirkan jiwa untuk sadar, untuk apa hidup.

Iyakan?

Terima kasih ya Rabb atas kesempatan ini, sehingga diri mampu menyusuri Pulau Lombok selama empat hari.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here