stasiun kereta api moslem traveler travel blogger sandi iswahyudi
Pemandangan di salah satu stasiun kereta api (Dok. Pribadi)

Perjalanan, selalu menyajikan banyak pelajaran yang berserakan di mana-mana. Tinggal orang tersebut sudi mengambil atau gak, itu pilihan.

Bismillah

Indahnya perkara muslim ketika bertemu saudaranya yang lain di perjalanan. Mereka baru bertemu, namun seperti pertemuannya itu sudah lama.

Sebagaimana dalam QS. Al-Hujurat ayat 10, Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

Mereka tak canggung untuk mendoakan dan mengucapkan salam kepada saudaranya yang lain, “Assalamu‘alaikum.”

Jika ingin lebih lengkap lagi bisa seperti ini, “Assalamu‘alaikum warohmatulloh wabarokatuh.”

Artinya semoga keselamatan, keberkahan dan kasih sayang dari Allah menyertai saudara.

Saudara yang mendengarkan pun menjawab dengan, “Wa’alaikumussalam warohmatulloh wabarokatuh.”

Maasyaa Allah sungguh indah bukan syariat Islam ini. Bertemu dengan siapa pun, selama dia muslim, maka kita disunnahkan, untuk memberi salam.

Sedangkan yang mendengarkannya, wajib menjawab salam tersebut. Apalagi ketika salam yang penuh dengan doa kebaikan ini dibungkus dengan senyum mengembang, maasyaa Allah sungguh indah.

Sejenak, energi positif itu akan mengalir kepada orang yang melihat dan mendengarkannya langsung.

Sebagaimana kita tahu, perkataan negatif dan positif berdampak bagi manusia dan makhluk lainnya.

Bukan hanya dalam hal perasaan, namun juga bisa berdampak kepada keadaan seseorang di masa depan.

Mengutip dari Republika, Ibnu Mas’ud menjelaskan makna salam berdasarkan hadis Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, “As-salam adalah salah satu nama dari nama-nama Allah Azza wa Jalla dan diperintahkan untuk disebarluaskan agar orang yang menerimanya mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan dari Dzat as-Salam (Yang Maha Sejahtera).”

Indah bukan?

Jika kita tahu makna dari salam, kita akan sadar betapa indah berhubungan dengan muslim.

Ia tidak akan mengganggu, mencelakakan, bahkan merugikan saudaranya yang lain.

Bahasa mudahnya, “Kamu akan aman bersamaku. Aku tidak akan menyakitimu, mencelakaimu, mencurangimu, ataupun menghianatimu. Namun, aku akan memberikan perlakuan yang terbaik buatmu.”

Indah bukan?

Seperti halnya langit dan bumi yang saling berbalas cinta. Saling berbalas kebaikan. Langit mengirimkan cahaya mataharinya, sedangkan bumi menyiapkan kanfasnya.

Makhluk di antara keduanya, mampu menikmati pesona keindahan yang tersaji.

***

Di sisi lain, saat kemarin saya ke Bandung menaiki kereta api. Saya duduk sandar, dan tak sengaja mendengar percakapan seseorang lewat telepon, berkomunikasi tanpa ada salam—pembuka atau penutup.

Jika muslim, dibuka dan ditutup dengan salam.

Saling mendoakan dalam kebaikan. Indah dilihat, serta untuk dinikmati.

Iyakan?

Lebih jauh, kejadian ini, menyadarkan diri, jika kita manusia sejatinya lemah. Yang membuatnya kuat adalah karena kasih sayang Allah Azza wa Jalla.

Diri ini bisa makan, bergerak, melakukan kebaikan hingga melakukan perjalanan hingga hari ini, berkat rahmatNya.

Bila tidak, entah apa yang terjadi. Maka semestinya diri ini rela memberi sesuatu ke saudaranya minimal dengan doa berupa salam.

Atau doa, tiap hari tanpa saudaranya itu tahu, bahwa kitalah yang mendoakan.

Janganlah ragu! Masih ingatkan, bahwa ketika seseorang mendoakan pada saudaranya yang lain, maka itu jugalah yang akan didapat.

Teringat akan ulama’ jika doanya ingin cepat terkabul, ia mendoakan saudaranya dahulu.

Dilain sisi ketika diri ini berbuat keburukan  ke orang lain/lingkungan. Sejatinya ia akan kembali ke diri sendiri.

Oleh karenanya, Allah dan RasulNya mengingatkan, sejatinya orang-orang yang berbuat buruk itu sedang dzolim kepada dirinya sendiri.

Hem… betapa lemah dan kasihannya diri ini, bila tak mendekat pada Allah.

Iyakan?

Kereta melaju membelah alam, dengan sajian yang membelalakkan mata, membuat jari-jemari ini, tak tahan untuk mengabadikan tiap momen.

Terima kasih ya Rabb, engkau izinkan diri ini memungut hikmah dari perjalanan naik kereta api menuju Bandung.

Perjalanan yang indah, dan merindukan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here