jenggot traveler moslem traveler muslim traveler sandi iswahyudi

Bismillah

Inilah kesalahan kalau gak tanya-tanya dahulu ke tuan rumah. Tapi langsung masuk-masuk saja 😅

Padahal si tuan rumah, bersama kami. Kalau saya ingat ini, jadi senyum-senyum sendiri 😊.

Alhamdulillah, masih bisa senyum.

Es jeruk kalau biasanya di belakang kampus UMM harga sekitar Rp 2.000-an, ambillah misalnya yang paling mahal Rp 5.000-an.

Eh di sini, es jeruk Rp 13.200,- haha…

Alhamdulillah jadi dapat hikmahnya.

***

Jadi gini ceritanya, saat itu saya dan tiga orang teman peserta Rona Nusantara 7 yaitu Bang Indra, Indah, Agus, turun di Terminal Leuwipanjang, Bandung.

BACA JUGA: Saya Temukan Makna Sharing & Traveling di Rona Nusantara ke-7

Sebelum kami menuju ke titik poin di Masjid Agung Sukabumi. Kami sholat Jumat dahulu di masjid depan terminal.

Saya berjalan agak cepat, sebab khutbah pertama sudah dimulai. Terus juga ada ke khawatiran tempatnya habis.

Sebelum masuk ke area masjid, kami bertiga menitipkan barang di Rumah Makan Ampera, sebelah kanan masjid, dan meminta Indah menjaganya.

Selain itu dia juga sekalian makan.

Alhamdulillah… tas-tas yang dititipkan membuat kami mudah mencari tempat di kondisi halaman masjid yang sudah ramai dengan jamaah. Bahkan sampai meluber ke halaman rumah warga.

Saya membayangkan, jika tas tidak kami titipkan, mau ditaruh mana ya tas kami. Hem…

Ditengah kesempitan itu, alhamdulillah Allah masih memberi kami ruang, sehingga kami masih berkesempatan mendengarkan khutbah masjid dengan bahasa Sunda.

Alhamdulillah… padahal kami bertiga bukan orang Sunda 😊. Saya dari Jatim, Agus dari Jateng, sedangkan Bang Indra dari Batam.

Walaupun begitu, alhamdulillah, kami masih bisa menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, sholat Jumat di Bandung.

Kadang, kenikmatan itu terjadi, saat diri berada dalam kesempitan. Cara mendapatkannya, syukuri dengan ucapkan, “Alhamdulillah.”

Beberapa menit kemudian, setelah dzikir dan sholat ba’diyah ditunaikan. Saya langsung ke rumah makan dan mendapati Indah sudah menghabiskan satu piring nasi plus lauknya beserta minuman segarnya.

Selanjutnya disusul dengan kedatangan Bang Indra dan Agus. Kami tak langsung berangkat. Tapi sepakat, memesan minuman dahulu.

Ya, kalau di Jawa, semacam unggah-ungguh begitu. Sudah titip barang banyak, masak gak makan/minum, iyakan? 😊

Saya memesan es jeruk manis, Bang Indra, es teh manis, dan jeruk panas.

Nikmat, saat menyeruputnya. Ditambah dengan udara Bandung pada siang hari, cukup menyengat. Sesekali rasa asam menghampiri dan membuat wajah saya berubah mengernyit.

Nikmat, membasahi kerongkongan. Sari-sarinya masuk ke dalam tubuh, mengganti lelah menjadi segar dan siap untuk melanjutkan perjalanan panjang.

Sedot, sedot, dan sedot terus sampai habis. Kalau di iklan mah, sampai tetes terakhir, hehe.

Setelah habis, saya berhenti sejenak, dan langsung menuju lokasi kasir untuk membayar.

“Kang saya es jeruk manis satu berapa?”

Akang pun menjawab, “Rp 13.200.”

“Saya mengulangi lagi?” Semacam gak percaya dengan harga satu gelas es jeruk manis.

“Rp 13.200,-” Ucap si akang dengan sabar mengulanginya.

Saya langsung membuka dompet, dan membayar dengan pecahan Rp 10.000,- dan Rp 5.000,-.

Bercampur perasaan kaget, dalam diri berucap, “Mahal amat ya?”

Saat kami menuju bus MIG jalur Bandung-Sukabumi dengan tiket sebesar Rp 30.000,-.

Saya memandang ke teman-teman, sebab harganya tidak seperti biasa yang saya minum :D.

Biasanya saya minum di warung makan sederhana daerah Malang, harganya gak sampai segini.

Terus baru Indah—kerja di Bandung—bilang, jika makan di Ampera Bandung itu terkenal mahal.

Saya menimpali, “La… Mbak ko gak bilang dari tadi?”

Terus dia membalas, kurang lebih seperti ini, “Tadi kalau nitip tempat di samping gak boleh. Jadi ya nitip di Ampera sekalian aku makan. Aku laper soalnya.”

Hikmah dari perjalanan ini, pasti saudara sudah bisa menebaknya.

Iyakan?

Sip, yaitu, bertanyalah pada yang tahu. Jangan main nyelonong saja! 😁😂

Kalau main, nyelonong, ya rasakan sendiri akibatnya ☹.

Selain itu, ketika kita mendapatkan sesuatu yang gak biasa, maka secara spontan, diri akan reflek menolak. Karena belum terbiasa.

Tapi jika misalnya, saya biasa minum dengan harga satu gelas Rp 20.000,-. Pasti dengan harga minum seperti ini saya gak akan kaget.

Iyakan?

Kalau ingat makanan dan minuman dengan harga terjangkau serta cita rasa yang ngangenin, jadi ingat Malang dan Batu.

Jangan pernah mengutuk perjalanan, apa pun yang terjadi! Sebab semua yang terjadi pada seorang pejalan, pasti ada hikmah besar dibelakangnya.

Selamat menikmati perjalanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here