bakpia pathok yogyakarta moslem traveler blogger
Suasana di toko Bakpia Pathok 25 Yogyakarta

Seninya sebuah perjalanan, traveler hanya bisa merencanakan, dan Allah yang menentukan. Sehingga seorang pejalan, harus siap adaptasi dengan berbagi kondisi yang ada.

Bismillah

Sebenarnya perjalanan ini sudah saya lakukan pada November 2017, saat saya mengikuti kegiatan Rona Nusantara 7 di Banten yang diprakarsai oleh Rumah Zakat.

Baru kali ini bisa menuliskannya.

Awalnya memang tidak ada rencana untuk singgah sejenak ke Yogyakarta, namun melihat kondisi harga kereta yang naik, dan saya belum beli oleh-oleh untuk keluarga.

Alhasil ya, sekalian deh, mampir sejenak ke Yogyakarta, alhamdulilah, ada teman baru dari Rona Nusantara 7, Agus namanya. Sehingga saya tak bingung untuk menitipkan tas, dan istirahat sejenak di kamarnya, plus diajak makan khas Yogyakarta dengan rasa manisnya dan harga terjangkau.

Alhamdulillah… jika saudara penyuka pedas, kemudian makan khas di Yogyakarta, mungkin saudara bisa merasakan seperti yang saya rasakan.

Lauk yang manis, padahal lidah suka dengan pedas, hehe, bisa bayangkan?

Alhamdulillah…

Berburu bakpia yang #nyamm

Fokus utama saya kemarin ke Yogyakarta adalah cari oleh-oleh, hehe, yaitu bakpia pathok.

Kenapa? Sebab oleh-oleh ini termasuk yang digemari oleh keluarga.

Nyam…

Saya pun tanya ke beberapa teman yang pernah ke Yogyakarta dan mendapati beberapa referensi.

Jujur saat itu saya cari yang harga terjangkau, dan rasa enak 😊.

Alhamdulillah saya dapat informasi dari petugas loket Trans Yogyakarta, tempat pembuatan langsung Bakpia Pathok 25.

Saya pun langsung tanya, bagaimana rutenya ke sana. Ternyata rutenya cukup mudah, saya hanya naik Trans Yogyakarta yang 3A dengan membayar tarif Rp 3.500,-. Setelah itu dilanjut jalan kaki bentar.

Berbekal google maps, perburuan bakpia dimulai hihi.

Ternyata jika naik trans Yogyakarta, waktu tempuh cukup lama, beda jika menggunakan transportasi semacam ojek online.

Tapi ya gitu sih, harga lebih murah yang Trans Yogyakarta.

Kemarin saya naik dari halte kawasan Museum Monumen Jogja Kembali turun di Halte Ngabean, cukup lama waktu tempuhnya.

Tapi ya saya menikmati saja sih, soalnya memang gak terburu-buru, selain itu juga mau menghemat budget, hehe.

Membelah kota, merekam makna, menyesap aroma kota yang selalu dirindukan siapa saja.

Alhamdulillah, akhirnya saya sampai di Halte Ngabean.

Saya buka google maps, dan cek berapa jarak Halte Ngabean ke Pabrik Bakpia Pathok 25, ternyata hanya 850 m dengan jarak tempuh 11 menit.

Saya memutuskan untuk jalan kaki, walau disekitar halte banyak transportasi lokal yang bisa digunakan.

Sebelum melakukan perjalanan, saya melaksanakan shalat dhuhur dahulu.

Sejatinya sholat bukan penghambat seseorang untuk melakukan perjalanan. Bahkan ia sebagai tempat pengisi daya, ketika pejalan telah kehabisan energi (fisik dan jiwa) dalam dirinya.

Alhamdulillah, shalat memberikan energi. Basuhan air wudhu dan setuhan wajah pada bumi mengembalikan kekuatan untuk melangkah kembali.

Sandal gunung saya kencangkan talinya, melihat google maps, menyakinkan diri, dan mengajak tubuh untuk menikmati tiap langkah.

Saya menuju lokasi bakpia dengan berjalan kaki. Sesampai di sana, ternyata ada banyak jenis bakpia pathok.

Tapi saya tetap memilih Bakpia Pathok 25, sesuai referensi dari petugas halte.

Mobil-mobil berjajar, beberapa orang berdiri di depan toko bakpianya. Saya pikir, ramai juga, berarti saya gak salah langkah nih.

Rasa Bakpia Pathok 25 yang makyus

Saya langsung masuk area toko, dan menyaksikan ada wisatawan yang melihat-lihat, membeli bakpia, dan ngobrol dengan yang lain.

Sang petugas toko, langsung memberikan saya tester bakpianya. Saya ambil satu dan saya coba dengan posisi jongkong. Alhamdulillah nikmat, ini bakpia yang saya cari.

Rasanya lembut dan enak.

Saya langsung tanya harga dan pesan yang rasa kacang hijau sebanyak tiga buah. Satu bungkus bakpia pathok yang biasa harga Rp 30.000,-.

Namun jika beli langsung ditempat, satu bungkus dapat potongan Rp 5.000,-. Alhamdulillah…

Jadi uangnya bisa buat beli makan, hehe. Maklum perut sudah keroncongan.

O ya, kemarin ada juga bakpia pathok premium, yang rasanya lebih lembut dari yang saya beli. Tapi tentu, harga pasti bedalah, hehe.

Penasaran, kayak bagaimana ya rasanya?

Asyiknya lagi, kalau beli di tempat pembuatannya langsung, bakpianya masih hangat. Hem… mantap.

Bagaimana, saudara tertarik untuk incip langsung ke lokasi Bakpia Pathok 25?

Peta lokasi Bakpia Pathok 25

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here